Kematian Idealisme Dan Ancaman Laten Generasi Terburuk
loading...
-->
loading...

Pasang Iklan Anda

Kematian Idealisme Dan Ancaman Laten Generasi Terburuk

Monday, September 3, 2018




Derasnya arus globalisasi dan modernisasi telah mengaburkan batas-batas otoritas ekonomi, sosial, dan bahkan politik bangsa ini. Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang tentu merupakan salah satu pihak yang tak luput dari dampaknya. Era ini telah merusak nalar kritis dan independensi mahasiswa yang sejatinya harus dirawat dan dijaga. Realitas tersebut seakan mengisyaratkan bahwa “budaya mahasiswa” tengah dirusak secara masif dan sistemik.

Cobalah berjalan mulai dari gerbang kampus ini dan telusuri ke setiap sudutnya. Rasanya, “kita” seolah tidak sedang berada dalam institusi pendidikan yang sarat dengan iklim akademis, melainkan di suatu keramaian semacam pasar dan tempat hiburan yang penuh dengan hura-hura. Lihat saja, perpustakaan, plang fakultas, dan parkiran dijadikan tempat selfie untuk diposting di beberapa akun media sosial. Warung-warung sesak, tapi diisi dengan kongko-kongko yang tak berfaedah. Bahkan, bermain gadget terlihat lebih seksi dibanding dengan diskusi mencari solusi terhadap masalah yang tengah melanda umat dan bangsa. Seiring berjalannya waktu, fenomena ini menjelma menjadi sebuah penyakit individualistis, pragmatisme, dan hedonisme yang menggerogoti nalar mahasiswa.

Pelbagai kasus terjadi di perguruan tinggi yang baru beralih status ini sunggu telah menciderai nilai-nilai suci bagi seorang mahasiswa yang masih idealis. Rusaknya sistem kelembagaan mahasiswa salah satu realitasnya. Sejak tahun 2015 lalu hingga saat ini tidak ada kejelasan terhadap sistem yang menjamin demokrasi mahasiswa. Lemahnya kelembagaan mahasiswa terindikasi dari belum adanya aturan dasar yang kokoh menjadi acuan berorganisasi. Akibatnya, proses demokratisasi mahasiswa berjalan lambat dan terkesan sudah tidak ada lagi aktivis yang mumpuni di kampus ini.

Lemahnya sistem kelembagaan itu membawa dampak pada hilangnya kepekaan sosial dan rasa solidaritas antara sesame mahasiswa. Misalnya, kasus persekusi yang menimpa OS. Mahasiswa Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin UIN IB Padang itu saat ini sedang nenekam dipenjara akibat membeladiri dari preman yang ingin melukainya. (Suara Kampus/ 21Agustus 18) Pihak kampus seakan berlepas tanggung jawab menyelesaikan masalah ini. Menyedihkan, sebuah kampus yang di dalamnya berhimpun tenaga pengajar berkaliber doktor dan professor, ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah kecil yang menimpa anak-anaknya (mahasiswa). Mereka hanya berdalih, bahwa kejadian itu terjadi di luar kampus, sehingga tidak bertanggung jawab atasnya. Di samping itu, mahasiswa pun secara keseluruhan tidak lagi berempati dan tergerak untuk mendesak pihak kampus menanganinya. Mereka bungkam, diam seribu bahasa, seolah tidak terjadi apa-apa.

Belum lagi tentang masalah pembayaran uang kuliah dengan sistem UKT. Memang ada penolakan terhadap sistem ini, namun itu hanya disuarakan oleh sebagian kecil mahasiswa yang menjadi “korban”. Mereka terancam putus kuliah, lantaran tidak mampu membayar uang pendaftaran ulang. Lembaga pendidikan “islam” ini seakan didirikan hanya untuk orang “kaya”, tidak layak untuk kalangan mustadh’afin. Ironi, ketika institusi ini mengajarkan kepada mahasiswanya untuk berlaku adil, peduli terhadap kalangan bawah, dan penuh dengan kasih sayang, justru mempraktekkan sistem kapitalisme-feodalisme yang diharamkan oleh agama.

Nahasnya lagi, masuknya Presiden Mahasiswa UIN IB Padang sebagai pepimpin tertinggi lembaga mahasiswa ke dalam wilayah politik praktis tentu menciderai nilai-nilai independensi yang menjadi ciri dan fitrah mahasiswa. KF yang saat ini secara konstitusi menjabat sebagai Presma UIN IB Padang, ternyata sudah terdaftar sebagai calon legislatif di DCS (Daftar Calon Sementara) KPU Kabupaten Solok Selatan. (Lihat: Dok. DCS KPU Kab. Solok Selatan) Fakta ini menunjukkan rusaknya independensi seorang mahasiswa yang semestinya berada diatas semua kepentingan dan golongan. Dalam pada itu, kasus tersebut menggambarkan betapa hausnya seorang presiden mahasiswa terhadap jabatan dan kekuasaan. Di balik kejadian ini tentu ada pula aktor sebagai biang kerok, yang senagaja membuat mahasiswa kesepian sehingga ingin pentas di mana-mana. Membuat mereka kelaparan sehingga mendambakan “perut kenyang”, dan membuat mahasiswa memiliki hanya satu jenis impian, yaitu kuat, kaya dan menang.

Beberapa kasus di atas hanyalah segelintir problematika mendasar kalangan mahasiswa di kampus ini. Sayangnya, tidak terlalu banyak mahasiswa yang peduli lagi dengan kondisi tersebut. Mereka telah terlalu apatis dan menjadi robot yang digerakkan oleh mesin-mesin canggih bernama gadget. Mereka telah kehilangan nurani, tempat bersemayamnya “idealisme”. Padahal, Tan Malaka pernah mengingatkan bahwa “idealisme” adalah kemewahan terakhir yang dimiliki mahasiswa. Idealisme lah yang mampu mendorong mahasiswa untuk berani meneriakkan kebenaran, mengkritik tirani. Saat ini, idealisme itu telah digadaikan, dijual dan dikubur di atas timbunan nafsu kepentingan. Persetan dengan idealisme, mahasiswa tak ubahnya seperti “pelacur”, memperjual belikan harta paling berharga yang dimilikinya.

Pembiaran kondisi ini secara berkelanjutan akan menjadi penyakit yang merusak sistem berfikir mahasiswa. Akhirnya, mereka tidak lagi menjadi harapan melainkan ancaman yang akan mengahancurkan bangsa ini dari dalam. Kendatipun tidak disadari, pada suatu saat akan menjadi bom waktu yang dapat memorakporandakan sendi-sendi moral-sosial masyarakat. Mereka akan terlahir menjadi generasi terburuk yang korup, gila kekuasaan, dan berpihak pada kepentingan pribadi dan kelompok. Sekali lagi, mahasiswa yang lahir dari sistem dan budaya seperti di atas berpotensi menjadi ancaman besar sebagai generasi terburuk dan menjadi parasit bagi umat dan bangsa. Wallahu A’lam

Labai Kayo, Padang 04 September 2018https://www.blogger.com/email/action?token=APq4FmD9oIC3kvEq3w9QywF5M1Jz-dTBN7gyF_AvWKUp2lD_FNkKUg7B2k-buv9Yqcj4GSWxiyes4NMyX2BMzcJltZ43tfHj6y4RXfWPSK3DKilMnlzFWve2EmZvIYK-CuL4lJEvzvUo