Surat Terbuka Dari Muslim AR, Untuk Khairul Fajri Dewan Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang yang Mencoreng Nama Lembaga Mahasiswa Karena Terbukti Maju Mencaleg, dan Tidak Mengundurkan Diri
loading...
-->
loading...

Pasang Iklan Anda

Surat Terbuka Dari Muslim AR, Untuk Khairul Fajri Dewan Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang yang Mencoreng Nama Lembaga Mahasiswa Karena Terbukti Maju Mencaleg, dan Tidak Mengundurkan Diri

Thursday, September 6, 2018




Surat terbuka pada Presiden Mahasiswa UIN Imam Bonjol

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dear Bung Khairul Fajri
Saya sengaja memanggil Anda dengan Bung, agar tak ada senioritas dan hal-hal tak berguna lainnya.

Ini bukan ancaman dan semacamnya, sebab saya biasanya langsung menemui siapapun yang tak saya senangi sikapnya. Sebab itu lebih terhormat daripada berteriak, lempar batu dan sembunyi.

Namun karena beberapa hal, saya tidak bisa menemui Anda ke Kota Padang sana. Saya terbatasi oleh ruang dan waktu, sebab orang-orang Jakarta masih butuh wartawan pemalas serupa saya dan Ibu saya di rumah menunggu gelar master.

Selama kuliah, saya sering protes. Bukan untuk eksistensi, kalau memang untuk eksistensi sudah selayaknya saya masuk daftar senior yang harus Anda puja dan like statusnya, follow IG nya, dan jangan lupa komentar "Mantap" nya.

Saya protes cuma menyalurkan hobi berkelahi saja, maklum besar di lingkungan pesantren dan di DO karena kelewat bandel. Lalu hidup dalam dunia yang cukup gelap untuk mereka yang mendambakan rekam jejak sebagai orang saleh.

Kampus IAIN Imam Bonjol yang sekarang bernama UIN itu dulunya tempat saya berkuliah. Jurusan yang Anda ambil adalah induk dari jurusan Jurnalistik, tempat saya belajar menulis, termasuk menulis status yang saya anggap sebagai surat terbuka ini.

Saya sudah telusuri jejak digital sosial media Anda. Kesimpulannya, Anda cakap untuk kaum milenial, mengerti apa itu "Citra", mempraktekkan "foto, upload dan terkenal".

 Tapi, maaf bung. Tak ada saya baca di Suara Kampus soal kreativitas Anda, saya juga tak mendengar soal sepak terjang Anda, eh tau-tau Anda sudah jadi Presiden Mahasiswa saja.

Anda boleh bertanya pada pendahulu, baik itu Hafizul Pahmi Lubis yang saya datangi langsung kos nya terkait polemik Musmi. Apatah lagi Muhammad Yusuf El-Badri yang sering saya demo. Mereka berdua adalah mantan Presiden Mahasiswa    IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat

Entah mereka dendam atau tidak itu tak jadi soal, sebab protes harus tetap dikumandangkan.

Bung, mereka tak pernah mendaftar jadi calon anggota dewan legislatif selama memimpin IAIN.

Tak ada larangan dalam undang-undang soal mahasiswa yang mendaftar jadi caleg. Malahan itu bagus, artinya mahasiswa sekarang cerdas dan mau berpolitik secara profesional. Yang terlarang itu adalah berpolitik secara praktis. Serupa yang Anda lakukan.

Silahkan men"caleg". Itu hak Anda. Jika Anda hanya mahasiswa biasa. Tapi, karena Anda Presiden Mahasiswa, dari jurusan KPI pula, dari fakultas Dakwah yang teruji bahwa lulusannya bukan pecundang. Maka rasanya saya perlu mengingatkan.

Anda mundur saja dari jabatan Presiden Mahasiswa.

Anda tak punya etika dan melanggar aturan. Bung, sekelas Menteri saja mundur saat dia mendaftar jadi Caleg. Lalu Anda siapa?

Saya juga heran, kenapa tak terdengar protes langsung dari para mahasiswa UIN Imam Bonjol, apakah perlu saya kirimi papan bunga duka cita?

Hanya sindiran-sindiran halus saja berseliweran di beranda. Tapi, ya begitulah Bung. Pendidikan membuat orang memang lebih halus dalam bertutur kata, tapi kadang lupa logika dan sangat patuh pada etika serta estetika.

Kalau saya ingin memakai adab jalanan di Ibukota tentu diksinya akan serupa ini : "Bgst lu bikin malu,.... dan seterusnya"

Saya mendukung Anda untuk masuk dalam kancah politik. Siapa tahu kita bertemu di Jakarta, entah itu di KPK atau di Istana.

Kalau bertemu di KPK saya yang pertama kali akan memaki Anda.

Kalau bertemu di Istana, saya yang akan menulis langsung berita soal penghargaan yang Anda terima.

Tapi, tentunya setelah Anda mundur dari jabatan Presiden Mahasiswa.

Saya sangat malu menulis postingan ini. Namun, saya tak butuh citra dan pandangan orang. Saya cuma pengen eksis saja, lalu menyombongkan diri dan membanyol dengan sederet kisah-kisah lama semasa jadi mahasiswa.

Btw, Wakil Rektor yang menunjuk batang hidung ini dan mengancam DO karena saya demo sedang dalam penjara. Sedangkan saya tetap kuliah S2 tanpa beasiswa, tanpa puja puji soal aktivis kampus taik kucing itu, dan tak akan Anda temukan foto saya di Fakultas kita, apalagi UIN itu ketinggalan peradabannya sekitar 10 tahun dari dunia di luar gerbang kampusnya.

Sebab legenda bukan sesaat tapi dilupa, namun ia hidup dalam jiwa-jiwa saksi mata. Hidup dalam kenangan mereka yang bahu membahu mewujudkan sesuatu yang lebih baik. Hadir dalam nostalgia para sahabatnya.

Surat terbuka ini terpaksa saya tulis. Karena ulah Anda saya jadi sibuk membalas pesan dari kawan-kawan yang perih matanya karena gas air mata dari polisi, agar pemerintah tak menaikkan harga BBM subsidi.

Saya menulis ini demi mereka yang rela terancam nilainya hanya untuk mewujudkan adanya kipas angin dan berdemo hanya untuk bisa berak di toilet.

Iya, hanya soal toilet, kini Anda dapat menikmati ritual berak dengan tenang, tanpa harus menahan dan berkeliling dari satu fakultas ke fakultas lainnya.

Jangan berlagak tak membaca surat terbuka ini. Kalau saya ada di Padang, urusannya tentu cepat kelar.

Saya tak membenci Anda, hanya saja kalau sikap Anda ini dibiarkan. Maka ini contoh keliru, cuma Presiden Mahasiswa sudah begini.

Bung, mau Presiden Joko Widodo  sekalipun, mau Kapolri sekalian, atau siapapun di Republik ini saya tak pernah takut. Asal itu kebenaran ia harus diungkap.

Demi melengkapi khittah sebagai lulusan perguruan tinggi Agama Islam. Saya akhiri dengan permintaan maaf kalau ada kata yang typo.

Kalau itu kebenaran pasti berasal dari Allah SWT. Kalau ada kekeliruan dalam surat terbuka saya ini, salahkan jejak digital Anda sendiri.

wabillahi taufiq wal hidayah

Sekian dan terima transferan.

Jangan lupa mundur ya Bung. Syahrini saja maju mundur cantik, bisa jadi terkenal dan banyak uang.

(Surek terbuka apoloko, nah nah main lai, wak baka se kantua Dema tu, main teater bagailah, demo bagailah, manga buek-buek surek lo)

Kalera!