Tradisi Kaum/Suku Batu Kambing Yang Masih Terus Dijaga, Sehari Pasca Lebaran Ziarah dan Gotong Royong Membersihkan Pandam Pakuburan
loading...
-->
loading...

Pasang Iklan Anda

Tradisi Kaum/Suku Batu Kambing Yang Masih Terus Dijaga, Sehari Pasca Lebaran Ziarah dan Gotong Royong Membersihkan Pandam Pakuburan

Thursday, June 6, 2019

 (Kemenakan kaum/suku Batu Kambing berkumpul di salah satu sudut sembari bercengkrama)

SIJUNJUNG-SUMBAR.ONLINE, Sumatera Barat dengan suku Minangkabau sebagai daerah dengan kontribusi muslim dengan falsafah adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah memiliki berbagai tradisi pasca lebaran. Secara tradisional dan turun temurun untuk memeriahkan lebaran Idul fitri. Tradisi-tradisi ini bisa ditemui di hampir semua penjuru daerah di Sumatera Barat. Tradisi ini masih terpelihara sampai sekarang.
Salah satu tradisi tersebut adalah memberisihkan sekalugus ziarah pandam pakuburan suku yang dilakukan sebagian besar masyarakat Minangkabau. Berziarah ke pandam (lokasi) pakuburan kaum/suku Ini dilakukan untuk mengingatkan pada kematian dan akhirat.
Tradisi ini dilakukan dengan gotong royong. Di Sumatera Barat, lokasi perkuburan juga dikelompokan berdasarkan suku, tempat tinggal dan nagari. Tradisi ini selain untuk mendoakan orang yang dikubur juga sebagai ajang saling bertimbang maaf dan silaturahmi antara kaum baik mamak kemenakan atau sebaliknya dan juga silaturahmi bagi orang di rantau dengan kaum yang ada di kampung.
Salah satu kaum/suku yang masih menjaga tradisi ini adalah suku Batu Kambing yang ada di Jorong Aurgading, kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung. Sehari setelah shalat id atau 2 syawal 1440 Hijriah, kaum/suku Batu Kambing mendatangi lokasi pandam pakuburan suku yang terletak di Jorong Aurgading tersebut. Selain membersihkan kawasan pandam pakuburan dari semak yang menjulang tinggi, sekaligus berziarah dan mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia. Ini adalah salah satu tradisi yang masih dijaga kaum suku batu kambing secara turun temurun.
Kedatangan kaum ada yang seorang diri namun sebagian besar berkelompok bersama keluarga mereka. Mereka terlihat membersihkan rumput yang ada diatas dan sekitar makam keluarga tercinta mereka. Ada juga yang membawa air untuk menyiram makam, setelah itu mereka berdoa agar arwah keluarga mereka diterima Allah SWT dan mendapat kelapangan dialam kubur.
"Ini bentuk kepedulian kepada keluarga , baik orang tua, saudara dan keluarga. Kita tidak pernah melupakan mereka, dan memberi mereka doa agar selamat dan diberi kelapangan, sekaligus dengan Tradisi ini Kita di ingatkan suatu waktu Kita juga akan meninggal dunia dan sendiri didalam kubur. Ini membuat Kita untuk selalu mengingat Allah SWT, "ujar Hendra Zoni salah seorang kemenakan kaum ( 06/6/2019).
Senada dengan itu, Fauzaki Aulia yang juga kemenakan kaum mengatakan " Ini tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun tidak hanya sehari setelah shalah id tapi juga sebelum ramadhan, dan juga setelah idul adha akan tetapi setelah idul fitri lah anggota kaum ramai berdatangan. Banyak hikmah gotong royong membersihkan pandam pakuburan sambil ziarah. Ini tandanya ikatan keluraga dan kerabat tidak putus, yang telah mendahului Kita doakan, yang masih hidup agar mengambil hikmah dari tradisi ini,".
Selain itu seorang ninik mamak, AN Malin Cayo mengatakan " ini tradisi turun temurun yang sudah terlaksana mulai ratusan tahun lalu, ini juga bentuk tanggung jawab ninik mamak kepada para kemenakan memberikan pengajaran tentang silsilah dan pengetahuan akan kaum dan tradisi kaum karena ditangan kemenakan lah masa depan kaum berada, sekaligus ini salah satu ajang silaturahmi bagi seluruh anggota kaum baik mamak, kemenakan dan anggota kaum/suku yang ada dirantau".
(FA/Rimba)