Antara Rasa dan Logika

Pasang Iklan Anda

Antara Rasa dan Logika

Thursday, January 2, 2020



Manusia adalah makhluk yang terdiri antara fisik dan ruh. Terkadang antara keduanya tak sejalan dan searah bahkan tak memiliki arah. Misalnya, dalam sholat yang selalu menampakkan fisik yang bertasbih, bertahmid dan bertahlil. Namun apakah ruh juga bertasbih, bertahmid dan bertahlil? Allahu'alam.

 Mengapa demikian? Entahlah, terkadang yang terlihat belum tentu menampakkan yang sebenarnya.

 Begitupun halnya Cinta yang kadang tak logis antara rasa dan logika. Ada ranah rasa dan ada juga ranah logika. Rasa akan direpresentasikan oleh tindakan namun logika direpresentasikan oleh bahasa.


 Yaa, premisnya sangat jelas jika ranah rasa masih mampu dibahasakan berarti itu sejatinya bukanlah ranah rasa namun ranah logika. Walupun masih banyak yang bermain logika diatas rasa.





 Pernahkah anda menganalisis atau pernah menemui suatu kejadian ketika seseorang sedang mendekati wanita, lalu wanita tersebut merespon dengan cuek ? Lalu si pria mencoba menuangkan apa yang ia rasakan melalui tulisan-tulisan kedalam bentuk puisi, cerpen, Buku diary atau bahkan menjadikan kisahnya dalam sebuah karya novel ?


 Lantas, itu apakah ranah rasa atau ranah logika?





 Sejatinya itu adalah ranah rasa yang coba dipaksakan untuk dibahasakan. Ia mencoba mengabadikan rasa kepada orang dicintainya dalam bentuk bahasa, karena bahasa tidak akan hilang jika diabadikan, tidak sama dengan halnya rasa yang mampu hilang ditelan masa dan perlakuan. Namun, percaya atau tidak itu tak mewakili secara keseluruhan dari rasa yang ia rasakan sebenarnya.


 Kenapa ? Bukankah yang terpenting dalam menulis adalah kejujuran rasa ?


 Benar, tetapi itu tak mampu dibahasakan, hanya dapat sempurna apabila dirasakan dan yang merasakannya pun hanyalah ia yang memiliki rasa.


 Begitulah Cinta, terkadang disampaikan melalui bahasa dipandang menggombal atau bahkan wanita tak percaya. Namun, wanita tak bisa berbohong dengan rasa mana yang benar-benar cinta sesungguhnya mana yang hanya sebatas bualan.





 Cinta bukan hanya pengorbanan, namun saling tukar fikiran dan saling membesarkan serta melengkapi satu sama lainnya. Tidak untuk diumbar dan tidak juga untuk ditutupi. Karena Cinta itu rasa yang paling unik, bagaimanapun kita menutupinya ia akan tetap mampu dirasakan.


 Hati-hati dengan Cinta, ia mampu menjadi pisau bermata dua jika tidak bijak dalam menyikapi.  Dalam hal ini tidak ada yang salah dengan Cinta, tetapi banyak yang menyalahgunakan Cinta.





 REGA DWI PUTRA