"Monopoli Legitimasi Sekolah"
loading...
-->
loading...

Pasang Iklan Anda

"Monopoli Legitimasi Sekolah"

Monday, February 24, 2020



Oleh : Aditia Warman ( kepala bidang PTKM HMI komisariat ilmu ekonomi UNP jurusan akuntansi fakultas ekonomi)

Opini - Legitimasi merupakan proses pengakuan dan penerimaan masyarakat kepada pemimpin untuk memerintah, membuat dan melaksanakan keputusan. Keputusan yang dihasilkan akan bersifat inheren dengan kebijakan apa  yang akan dibuat. Akan tetapi, sinkron fluktuatif dan image yang berkembang di mata masyarakat sering kali salah dalam memaknai defenisi dari legitimasi itu sendiri. Masyarakat sering kali beragapan bahwa legitimasi merupakan sebuah kebijakan otoriter yang dibuat oleh  para penguasa untuk  kepentingan  pribadinya. 

Sedangkan Sekolah merupakan tempat yang di peruntukkan mengaktifkan nilai-nilai kesadaran manusia dalam bertindak, berkata, dan berpemikiran baik, benar dan indah. Karenanya sekolah merupakan musibah sebab menerima berbagai jenis karakter manusia untuk membentuknya sedemikian rupa. Maka tuntaskanlah segala tanggung jawab tersebut melalui pendidikan.
 
 Mungkin akan ada bantahan dari setiap kita tentang kondisi sekolah selama ini yang tidak lepas dari kesejarahan bangsa ini sendiri yang pernah di jajah oleh kolonialisme dan imperialisme maupun kesejarahan zaman kerajaan. Sehingga sedikit banyaknya pasti meninggalkan kebiasaan maupun manifest budaya di berbagai sektor yang belum bisa move on hingga kini,  khususnya pendidikan di sekolah. Dengan kata lain, bahwa feodalisme masih mendarah daging dalam diri sebahagian orang dan menyebarkan virus feodalnya melalui sekolah serta menjadikan sekolah sebagai ladang bisnis, baik itu dari seragam, buku, dan sebagainya. Lalu pertanyaanya adalah apakah kita masih nyaman dengan kondisi demikian? Tentu jawabannya adalah tidak, oleh karenanya mari kita tuntaskan musibah sekolah yang melanda negeri melalui pendidikan.
     
Mendengar kata sekolah maka imajinasi kita akan dibayangi dengan sebuah tempat berisikan berbagai fasilitas untuk belajar, tenaga pendidik, peserta didik, sistem kurikulum, pakaian seragam dan sebagainya. Akan tetapi sebelum jauh lebih dalam perlu kita maknai dulu sekolah berdasarkan cikal bakalnya, dimana sekolah berasal dari bahasa Yunani yakninya skhole, scolae atau schola yang artinya adalah waktu luang, lebih tepatnya orang Yunani dahulu meluangkan waktu untuk mengunjungi suatu tempat atau mendatangi orang pandai untuk mempelajari segala sesuatu yang dianggap sebuah kebutuhan mengetahuinya. Sehingga sekolah merupakan sebuah pengaturan waktu khusus untuk belajar yang lambat laun menjadi kebiasaan berkesinambungan hingga menjadi kebutuhan, maka kegiatan tersebut dilakukan dengan lebih terstruktur, sistematis dan memiliki metode.
 
   Sekolah juga berarti tempat pendidikan formal dalam khalayak umum yang memiliki manajemen dan sistem kurikulum yang terkoordinir dan terstruktur dengan jelas. Namun kini makna sekolah sudah berubah, khususnya sekolah yang di terapkan di Indonesia menjadi kewajiban.

Hal ini bisa kita lihat dari program pemerintah wajib sekolah 9 tahun maupun wajib sekolah 12 tahun. Memang tidak etis, sebab makna sekolah berubah tidak mengikuti kesejarahannya. Akan tetapi hal tersebut mengindikasikan betapa pentingnya peran sekolah untuk mengaktifkan kesadaran manusia dan meningkatkan segala kompetensi dalam dirinya yang kerapkali tidak disadari tanpa bantuan seorang mentor (tenaga pendidik).

 Sehingga dibentuk kebijakan sebagai manifest komitment pemerintah dalam pembangunan, sebab pembangun segala pembangunan adalah sumber daya manusia dan sumber daya manusia di bentuk di instansi bernama sekolah sebagai proses transformasi nilai-nilai pendidikan, baik, benar dan indah. Sekolah seharusnya membukakan kemerdekaan belajar bagi murid, bukan hanya terobsesi pada sistem dan  nilai.
 
 Dari umur 6 tahun bahkan yang belum berumur 6 tahun, sebagai manusia merdeka yang mempunyai hak dan kewajiban semestinya kita kehilangan semua kemerdekaan kita, saat dimana kita masuk kedalam lembaga yang mengatakan dirinya sebagai otoritas kebenaran, yaitu sekolah. Hari demi hari kita jalani selama kurun 12 tahun lamanya bahkan lebih, hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang dinamakan sekolah. Tak terhitung berapa banyak waktu yang kita buang hanya untuk mendengarkan dewa-dewa berbicara didepan kelas setiap harinya.

Hal yang membosankan yang terus dilakukan setiap harinya hanya untuk mendapatkan nilai yang diberikan dewa tersebut. Setelah kita melakukan kegiatan yang panjang itu secara terus menerus kita juga akan melakukan serangkaian ujian yang akan menentukan nasib dan masa depan kita sebagai manusia merdeka, disinilah kemerdekaan kita kembali dirampas setelah dipaksa untuk masuk kedalam sekolah itu sendiri.
   
Monopoli legitimasi dan liberalisasi di sekolah telah melahirkan swatasisasi di dunia pendidikan. Orang yang mengenyam pendidikan di sekolah, dianggap telah memiliki ketrampilan yang memadai, yang di tandai dengan diberikan yang namanya ijazah. Dalam pandangan Ivan Illich sekolah telah memonopoli ketrampilan atau peran sosial yang seharusnya tidak dilakukannya. Sepintar apa pun murid tidak akan di akui sebelum punya ijazah.

Tapi guru bukanlah masalahnya, guru bekerja dalam sistem tanpa banyak pilihan atau hak. Kurikulum dibuat oleh pembuat kebijakan yang kebanyakan tidak pernah mengajar seharipun dalam hidup mereka. Hanya terobsesi dengan tes standar. Mereka berfikir bahwa melingkari sebuah pilihan pada tes pilihan ganda akan menentukan kesuksesan. Itu nampak aneh, kenyataannya tes itu terlalu mentah untuk digunakan dan seharusnya diabaikan. Kata Frederick J.kelly yang menciptakan yang namanya tes standar, mengatakan bahwa "tes ini terlalu mentah untuk digunakan dan harus diabaikan".
     
Betapa asyiknya jika semua sekolah di indonesia sudah jadi tempat yang menghidupi kultur akademis, di mana segala ideologi tak ada lagi yang tabu untuk dibicarakan dan diperdebatkan selama masih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan yang diajarkan disekolah tidak lagi berorientasi kepada pengembangan ilmu pengetahuan, penanaman nilai dan pembentukan karakter tetapi lebih mengarah kepada komersialisasi dan indoktrinasi pendidikan.

Sekolah seharusnya  menjadi jembatan masa depan bagi anak, tidak menjadi jembatan kertas yang mengarungi setiap swatasisasi monopoli dari legitimasi yang dibuat. Buktinya sekarang murid yang pada niatan awal untuk memperbaiki kehidupan mengantung cita-citanya setinggi langit, namun untuk mengangkat tangan setinggi telinga saja merek tidak sanggup. Lalu inikah yang dinamakanya pendidikan?
   
Sekolah itu seperti sebuah Dramaturgi dan Alegori tubuh yang sedang bergerak, menuntaskan problematika bukan untuk diri sendiri. Maka jadilah bagian dari tubuh itu, lalu bergeraklah, karna diam tidak akan membuat kita melihat banyak hal, yang ada justru malah kita menyalahkan mereka yang bergerak. Dan bila tubuh itu diminta untuk menulis sebuah surat untuk mereka yang apatis, maka akan hanya menulis satu kata, yaitu BERGERAKLAH!!.