Status Anggota LSF Periode 2019-2024 Harus Segera Ditetapkan

Advertisement

Status Anggota LSF Periode 2019-2024 Harus Segera Ditetapkan

Sunday, March 22, 2020


Jakarta - Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia merupakan lembaga independen negara yang mengurusi sensor film baik film dalam negeri atau asing. Posisi LSF sebagai lembaga independen sangatlah strategis untuk meningkatkan kualitas film serta memajukan perfilman Indonesia ke level yang lebih tinggi. Film, selain sebagai karya seni juga merupakan instrumen edukasi bagi penontonnya. Melalui film yang berkualitas, dampaknya akan sangat signifikan bagi negara.

Pemerintah sangat perlu untuk melihat sektor perfilman dengan serius, salah satunya dengan mengfungsikan LSF secara maksimal. Namun sayangnya, hingga saat ini pemerintah terlihat belum serius melakukannya.

 Hal itu dapat dilihat dari berbagai faktor seperti kebijakan, anggaran, sinergitas antar stakeholders, serta sikap pemerintah dalam melihat LSF sebagai lembaga independen negara.

Seperti yang diketahui bersama bahwa per 11 Februari 2020, hasil rapat internal Komisi I DPR RI mengenai Anggota LSF telah memutuskan 17 orang sebagai anggota terpilih LSF periode 2020-2024 yaitu Ahmad Yani Basuki, Arturo Gunapriatna, Ervan Ismail, Fetrimen, Hafidhah, Joseph Samuel, Mukayat Al-Amin, Naswadi, Noorca M Massardi, Rita Sri Hastuti, Rommy Fibri Hardiyanto, Tri Widyastuti, Andi Muslim, Kuat Prihatin, Nasrullah, Rosery Rosdy, dan Saptari Novia Sari. Namun hingga saat ini kabar terkait penetapan 17 anggota tersebut belum ada titik terangnya. Padahal jika mengingat masa periode sebelumnya telah berakhir per Juli 2019. Kondisi tidak pasti ini tentu sangat mengganggu kerja-kerja LSF.

Persoalan ini cukup mendapatkan sorotan dari berbagai kalangan, salah satunya aktivis perempuan Sri Irawati Mukhtar. “Lambatnya pemerintah dalam mengeluarkan SK Anggota LSF Periode 2020-2024 merupakan bukti ketidakseriusan pemerintah dalam memajukan perfilman Indonesia. Padahal sektor perfilman merupakan salah satu sumber penghasilan negara terbesar jika ditangani serius. Belum lagi jika dilihat dari sisi edukasi dan budaya, sangat berdampak besar”, jelasnya.

“Saya ini penikmat film. Saya juga tidak jarang menyoroti cara Lembaga Sensor Film bekerja. Sejauh ini mereka bekerja dengan maksimal sekalipun harus dihadapkan dengan berbagai persoalan. Perlu dorongan pemerintah agar LSF lebih kuat. Oleh karena itu sangat disayangkan jika hingga saat ini Anggota LSF terpilih belum dilantik.” Tambahnya.

Hingga hari ini, belum ada informasi yang pasti kapan Anggota LSF terbaru akan ditetapkan dan dilantik. Pemerintah melalui Sekretaris Negara perlu memberikan transparansi informasi terkait hal ini. Selain itu juga perlu ketegasan dari Komisi I DPR RI sebagai pihak yang menyeleksi untuk mendesak pihak yang berwenang agar SK segera diterbitkan dan pelantikan segera dilaksanakan. 

Kondisi ini harapannya tidak berlarut-larut sehingga LSF dapat segera bekerja. Pemerintah perlu lebih tertib dalam mengurusi hal-hal seperti ini. Birokrasi yang terlalu rumit tentu akan berdampak negatif. Tantangan LSF ke depan tidak mudah. Maka pentingnya sinergitas peran LSF, insan perfilman, dan pemerintah untuk mendorong film Indonesia terus melesat maju. Dengan begitu, perfilman Indonesia akan terus berkembang dan siap bersaing secara global.