PERAN PENTING BANK INDONESIA DALAM PENGENTASAN COVID-19
loading...
-->
loading...

Pasang Iklan Anda

PERAN PENTING BANK INDONESIA DALAM PENGENTASAN COVID-19

Friday, April 24, 2020


 
Oleh : (Aditia warman
Jurusan : Akuntansi / Universitas Negeri Padang Kepala Bidang PTKM HMI Komisariat Ilmu Ekonomi UNP.)


SALAH satu fakta global yang belakangan ini ramai diperbincangkan dan menjadi momok menakutkan bagi masyarakat global yaitu serangan Covid-19. Lebih dari 209 negara dibelahan dunia manapun ikut terjangkit serangan covid-19 ini. Setiap negara berlomba-lomba membangun kebijakan untuk memerangi penyebaran virus ini. Baik itu penelitian untuk membuat vaksin pengobatan penyakit yang disebabkan Covid-19, kebijakan lock down serta social distancing merupakan salah satu kebijakan negara global dalam memerangi covid-19. Sialnya, fenomena Covid - 19 ini juga memaksa jarak pada interaksi sosial, mengurangi produktifitas sehari-hari dan membuat perekonomian global menjadi merosot.

     Akibat isu dan fenomena Covid-19 ini bisa dikatakan bahwa kita menjadi naif, mengabaikan kondisi global yang menunjukkan bahwa demand pangan dunia mengalami peningkatan jauh lebih cepat dari pada supply. Pada tahun 2008 FAO memprediksikan kebutuhan pangan bagi  negara-negara berkembang meningkat hingga 60% di tahun 2030 dan menaik dua kali lipat di tahun 2050. Meningkatnya permintaan pangan yang konsekuen dari peningkatan populasi dunia, berdasarkan skenarionya penduduk dunia akan bertambah sebesar 73 juta jiwa setiap tahun mulai  dari 1995 sampai tahun 2020, ini berarti terjadi peningkatan sebesar 32% dalam kurun waktu tersebut. Dan benar bahwa jumlah populasi dunia pada tahun 2020 telah mencapai angka 7,7 miliar jiwa berdasarkan data dari Worldometer 2019. Peningkatan kebutuhan dan permintaan pangan yang begitu tajam berimplikasi terhadap kenaikan harga semua jenis komoditi pangan, olehnya jumlah penduduk miskin dan fenomena kelaparan semakin meningkat.

     Tidak dapat dipungkiri, negara Indonesia juga ikut terkena dampak Pandemi Covid-19. Pada tanggal  2 Maret 2020 Indonesia mengkonfirmasi secara resmi kasus pertama Covid-19. Namun selama itu, jumlah kasus positif Covid-19 tumbuh secara eksponensial. Tercatat perhari senin, 20 April 2020 jumlah kasus mencapai 6.760 kasus, jumlah itu sepertinya belum akan berhenti bergerak secara eksponensial di dalam waktu dekat. Berbagai prediksi kemudian dibuat. Salah satunya yang dirilis 27 maret kemaren oleh Tim FKM UI. Seperti dilansir detikcom1, Mereka menyatakan bahwa, di dalam kondisi tanpa intervensi maka lebih kurang 2.500.000 orang berpotensi terjangkiti Coronovirus pada hari ke 77 sejak awal penularan dengan jumlah yang meninggal lebih kurang 240 ribu. Tentu kita tidak menghendaki skenario tersebut terjadi. Bahkan pada kondisi di bawah intervensi tinggi pun, jumlah 500 ribu kasus positif tetaplah jumlah yang sangat besar. Belum lagi jumlah kasus kematian pada kondisi High intensity juga sangat tinggi, yaitu 11 ribuan. Kondisi tersebut lebih tinggi dari kondisi yang dihadapi oleh Amerika Serikat, Italia, dan China saat ini, yang merupakan tiga negara terdampak paling parah dari wabah Covid-19.

      Ditengah upaya keras mengatasi penyebaran Covid-19 yang menguras energi, Bank Indonesia juga mengambil andil dalam pengentasan Pandemi Covid-19 di Indonesia. Tidak hanya pengentasan Covid-19, Bank Indonesia juga melakukan upaya dalam memperkuat perekonomian negara. Beberapa langkah Bank Indonesia untuk mengantisipasi imbas covid-19, terutama yang menyangkut pada stabilitas nilai Rupiah, yaitu : Pertama, Bank Indonesia melaksanakan Relaksasi bagi investor asing terhadap lindung nilai dan posisi devisa netto, didalamnya mencakup penggunaan rekening Rupiah dalam negeri alias Vostro bagi investor asing sebagai Underlying transaksi dalam transaksi DNDF. Kemudian pencatatan DNDF dalam posisi devisa netto (PDN), dan juga transaksi DNDF diperhitungkan dalam PDN Bank dan dilaporkan ke Bank Indonesia, sehingga perbankan semakin longgar dalam transaksi di pasar valas sejak tanggal 20 maret 2020. Langkah Bank Indonesia kedua adalah investor global dapat menggunakan Bank Kustodi Global dan Domestik dalam kegiatan investasi diindonesia. Ketiga, bersama Kementrian Keuangan telah melakukan komunikasi secara langsung dengan Investor Global.

     Tidak hanya stabilitas Rupiah, Bank Indonesia juga ikut andil dalam menekan penyebaran Covid-19. Langkah rill yang ini bahkan menyentuh masyarakat secara langsung. Cara pertama yang dilakukan Bank indonesia adalah : Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan Industri Keuangan menyesuaikan jadwal operasional yang berlaku sejak 30 Maret sampai 29 Mei. Kedua, distribusi Rupiah kepada masyarakat dijamin sudah lewat proses pengolahan khusus, sehingga meminimalisasi penyebaran Covid-19. Langkah rill ketiga adalah optimalisasi transaksi non-tunai lewat uang elektronik mobile banking, internet banking dan QRIS untuk mendukung wfh dan social distancing. Termasuk MDR QRIS 0% untuk usaha mikro dan penurunan biaya SKNBI. Bank Indoensia pun sudah menambah suply-suply uang di atm-atm seluruh indonesia dan juga sudah mengkarantina uang yang telah disetor oleh perbankan.

     Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwasanya "Bank Indonesia akan terus menggunakan berbagai instrumen-instrumen yang ada, baik moneter, instrumen-instrumen pasar baik itu pasar uang maupun pasar valas, instrumen-instrumen makroprudensial dan instrumen-instrumen yang terkait dengan sistem pembayaran. Bank Indonesia juga melakukan koordinasi yang sangat erat dengan Pemeritah, khususnya bersama Kementrian Keuangan, dengan otoritas terkait khusunya OJK, dan berbagai pihak untuk bersama-sama melakukan stabilisasi makro ekonomi, stabilisasi sistem keuangan dan tentu saja mengatasi dampak negatif dari Covid-19".

      Apakah upaya-upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia ini efektif? Data pasal menunjukkan di akhir maret 2020 indeks harga saham kembali ke atas 4.000-an dan Rupiah stabil di angka Rp16.200 per dolar amerika serikat. Tentu ini bisa menjadi indikator bahwa keyakinan investor tetap baik pada indonesia.

     Penulis berpendapat, bahwasanya melawan ancaman yang disebabkan Covid-19 ini secara bersama adalah pilihan yang tepat, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah akan tetapi masyarakat luas pun harus ikut andil, sebab Covid-19 merupakan pandemic yang memang melanda warga global secara bersama. Lihatlah kondisi kehidupan hari-hari ini, jumlah populasi miskin dan kelaparan telah mencapai lebih dari 1 milyar jiwa setiap harinya, itu berarti lebih dari 15% populasi dunia. Hal ini disebabkan karna tidak dapat mengakses kebutuhan pangan secara produktif dan pola hidup sehat sehingga menjadi kutukan abadi bagi mereka. Orang-orang seperti ini harus kita perjuangkan karena tidak memperoleh hak asasinya akan pangan dengan cukup. Covid-19 memberikan sejarah panjang bagi negara global. Begitu juga di indonesia, disaat adanya ancaman krisis ekonomi, Indonesia juga dihadapkan pada pilihan siapa dulu yang akan diselamatkan, karena tidak hanya berdampak pada ekonomi dan kehidupan sosial, Pandemi Covid-19 juga telah menulari sektor ekonomi paling bawah sekalipun termasuk sektorik. Tentu ini menjadi tugas kita bersama, tidak hanya pemerintah dan Bank Indonesia, masyarakat dan pemuda sebagai control sosial juga harus ikut ambil peran.