IBADAH DI TENGAH PANDEMI COVID-19
loading...
-->
loading...

Pasang Iklan Anda

IBADAH DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Monday, May 11, 2020


Oleh : Riswan Amirul 
Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara UIN IB Padang

Ibadah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. 

Baik berupa perkataan maupun perbuatan baik yang batin maupun yang lahir. Sholat, zakat, puasa, haji, berbakti kepada kedua orang tua, selalu berbuat baik kepada sesama, dan bahkan berjihad melawan virus corona yang mematikan ini termasuk salah satu bagian dari ibadah. Syaik Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah di dalam kitabnya berjudul al-Qaul al-Mufid menjelaskan Ibadah shalat termasuk bentuk Ta’abbud ( mendekatkan diri kepada Allah). Adapun segala gerakan dan bacaan yang terdapat dalam rangkaian shalat itulah yang disebut “Muta’abbad Bihi”. Berbicara mengenai sholat, maka sudah sama-sama diketahui  bahwa sholat itu terbagi menjadi dua: yang pertama, shalat fardhu yang di kerjakan 5 (lima) waktu dalam sehari semalam, yang kedua, shalat sunnah seperti sholat tahajud, dhuha, tarwih dan witir.

Nah jika berjihad melawan corona merupakan suatu ibadah, maka shalat adalah senjata umat Islam untuk melawan virus corona yang menyerang manusia sampai ke penjuru dunia termasuk Indonesia. Bagaimana sholat bisa menjadi senjata untuk melawan virus corona ini?. Pertama, Sebelum shalat diwajibkan untuk berwudu’. Wudu’ adalah solusi ampuh untuk menjaga diri dari virus yang menempel ditangan dan anngota tubuh seperti yang disarankan kepada kita untuk selalu mencuci tangan. Setelah itu kita sholat, gerakan di dalam shalat merupakan bentuk olahraga yang biasa dikerjakan di dalam rumah. Sebagaimana anjuran pemerintah kepada masyarakat untuk selalu menjaga fisik. 

Agar shalat dikerjakan itu mempunyai kekuatan lebih (pahala 27 derajat) untuk diri, maka sama-sama dikerjakan secara berjama’ah. Shalat berjama’ah yang biasanya dilakukan di masjid, pada kondisi wabah virus Corona saat ini sholat berjamaah dilakukan dirumah, untuk memutus mata rantai covid 19. Ini merupakan salah satu solusi yang harus dipatuhi ditengah pendemi covid 19. Karena pada prinsipnya solusi adalah jawaban disaat bumi sedang dilanda kekacauan. Masyarakat harus berkontribusi disaat pemerintah sudah memberi solusi, untuk menghentikan berkembangnya virus ini.
Secara teoritis sholat fardhu maupun sholat Sunnah yang dikerjakan  dirumah secara berjamaah dengan keluarga tidak mengurangi pahala yang didapatkan sebanyak 27 derajat. Ibadah dirumah dengan keluarga menambah spiritual kepada Allah SWT. Serta meningkatkan imunitas tubuh melawan virus corona. 

Sholat berjamaah dirumah adalah solusi yang harus dipatuhi ditengah pandemi. Sebuah ayat dalam Al-Qur'an menjelaskan " wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya ( Q.s An-nisa' : 59).

Ayat ini mempunyai substansi hukum, bahwa ayat ini tentu mengandung makna ditengah pandemi virus corona pada saat ini. Pertama, setiap orang yang beriman harus taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan cara tetap mengerjakan ibadah. 

Kedua, setiap orang yang beriman harus taat kepada Ulil Amri (pemimpin) dengan cara tetap dirumah sebagai bentuk perlawanan terhadap virus corona yang melanda negeri ini. Sayyid Qutb menafsirkan bahwa yang dimaksud "Ulil Amri" dalam surat an-nisa' ayat 59 yaitu pemimpin dan ulama. Karena pemimpin mempunyai kewajiban untuk memerintah dan menetapkan hukum.

Pada hakikatnya hukum mempunyai tiga sifat. Pertama, hukum bersifat mengatur, maksudnya hukum memuat berbagai peraturan baik dalam bentuk perintah maupun larangan yang mengatur tingkah laku manusia dalam hidup bermasyarakat demi terciptanya ketertiban dimasyarakat. Seperti penerapan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2020 yang ditandatangani Presiden RI, dan diturunkan secara rinci di peraturan menteri kesehatan (Permenkes) RI Nomor 9 Tahun 2020 tentang pedoman pembatasan sosial berskala besar dalam rangka percepatan penanganan Corona Virus Disease 2019 (covid 19). 

Kedua, hukum bersifat memaksa, maksudnya hukum memiliki kemampuan dan kewenangan yang memaksa anggota masyarakat untuk mematuhinya. Sifat memaksa ini ditujukan agar masyarakat lebih disiplin menjaga jarak dan tetap dirumah kecuali ada keperluan mendesak.

 Tetap dirumah dan selalu beribadah di tengah pandemi covid 19 ini adalah bentuk ketaatan dan kepatuhan kepada Allah dan pemimpin untuk melawan virus corona. Ketiga, hukum bersifat melindungi, maksudnya hukum dibentuk untuk melindungi hak tiap-tiap orang serta menjaga keseimbangan antara berbagai kepentingan yang ada. Sifat melindungi ini ditujukan untuk melindungi kesehatan warga, pada prinsipnya adalah "salus populi suprema lex esto" keselamatan masyarakat adalah hukum tertinggi.

Dan sifat-sifat hukum tersebut bertujuan untuk mendatangkan kebahagiaan dan ketertiban dtengah masyarakat. Kebahagiaan untuk menang disaat virus corona yang menghadang. Kebahagiaan dirumah dengan cara tetap beribadah. Dengan demikian, mari patuhi aturan pemerintah yang menyuruh masyarakat nya tetap dirumah dan juga aturan Allah untuk tetap beribadah agar Allah hadiahkan Fallah (kemenangan).