Isue Rasisme Di Papua Mencuat, Direktur LEMI PB HMI Minta Semua Kelompok Tahan Diri Dan Fokus ke Penanganan Covid 19 dan Ekonomi
loading...
-->
loading...

Pasang Iklan Anda

Isue Rasisme Di Papua Mencuat, Direktur LEMI PB HMI Minta Semua Kelompok Tahan Diri Dan Fokus ke Penanganan Covid 19 dan Ekonomi

Tuesday, June 9, 2020


Jakarta - Isue rasisme yang kembali mencuat di Papua mendapatkan atensi dari berbagai pihak. Salah satunya dari aktivis mahasiswa. Seperti yang diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam PB HMI yang meminta semua kelompok tahan diri dan fokus ke penanganan Covid-19 dan ekonomi.

"Pasca di adakannya diskusi virtual oleh badan eksekutif mahasiswa Universitas Indonesia yang mengundang Veronica Koman sebagai pemateri membuat isu rasisme di Papua kembali mencuat. Saya menilai ada kekuatan besar yang ingin memisahkan papua dengan Indonesia. Isu-isu pemecah belah bangsa ini selalu dihembuskan di moment moment tertentu," jelas Direktur Eksekutif LEMI PB HMI, Arven Marta, kepada wartawan di Jakarta, Rabu (10/6).

Arven menegaskan tidak ada pembenaran soal rasisme. Nabi Muhammad yang menjadi suri tauladan umat Islam telah mencontohkan kepada kita semua, seseorang dilihat bukan dari Ras nya, melainkan dari kualitas karakter dan akhlaknya. 

Pun sebaliknya, tambah Arven, tidak ingin ada pembenaran tindakan kriminal dan teroris di Indonesia atas dasar apapun.

"Semua harus ditindak sesuai hukum yang berlaku. Pihak pihak yang mengahasut agar papua bergejolak harus di proses," tegasnya.

Arven melanjutkan jika saat ini bangsa Indonesia dan dunia tengah dilanda musibah pandemi Covid-19 yang telah meluluh lantahkan tatanan perekonomian, harusnya ini yang menjadi tugas kita bersama memangun kembali, bukan malah membuat masalah baru dengan isu pecah belah bangsa. 

Selain itu, Arven mengatakan jangan sampai kita ikut-ikutan latah dengan membawa isu rasial saat sekarang ini. Ia mengatakan tak pantas jika isu rasial dihembuskan, seperti halnya yang terjadi di Amerika. Sebab, di Indonesia ada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi perekat perbedaan, sedangkan di Amerika Serikat mereka tidak punya itu (semacam Pancasila atau Bhinneka Tunggal Ika) yang menjadi kekuatan pemersatu mereka.

"Kita cinta indonesia dan keberagaman," tutup Arven.