Warisan Nasionalisme Untuk Kaum Milenial
loading...
-->
loading...

Pasang Iklan Anda

Warisan Nasionalisme Untuk Kaum Milenial

Wednesday, June 10, 2020



Pertama kali, saya ingin membuka tulisan ini dari beberapa kutipan-kutipan yang murni saya ambil dari sebuah buku yang berjudul Nasionalisme Indonesia Kini Dan Di Masa Depan karangan Benedict Anderson. Saya tertarik dengan analisa yang ditulis Ben tentang Nasionalisme Indonesia. 

Perjalanan panjang sejarah bangsa-bangsa di Nusantara telah mengantarkan pada satu kesimpulan. Yaitu "Bangsa-Bangsa di Nusantara yang disatukan oleh pemuda di bawah naungan sebuah Bangsa yang besar dan penuh kebersamaan atau disimbolkan menjadi Negara-Bangsa yang pada akhirnya dicetuskan menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan buah dari Nasionalisme adalah proyek bersama". Mengapa bisa demikian? 

Sekiranya saya sependapat dengan Ben.
Saya akan memaparkan melalui perspektif Nasionalisme Indonesia yang dibangun oleh Ben. Cara Ben sangat menarik dalam mengulas fenomena perjalanan Nasionalisme Bangsa Indonesia. Sebelum terciptanya sumpah pemuda yang diikuti oleh pemuda-pemuda dari perwakilan seluruh wilayah Indonesia. Ben mengajukan beberapa fakta sejarah yang memiliki kontrakdiksi antara keagungan dari warisan nenek moyang Bangsa-Bangsa di Indonesia dengan semangat kebersamaan pemuda saat dibacakannya teks sumpah pemuda. Antara lain: Perang Diponegoro dan beberapa penguasaan wilayah oleh sebuah bangsa terhadap bangsa lainnya di Indonesia, seperti Aceh menguasai wilayah pesisir Minangkabau. 

Sambungnya, pada masa-masa pemberontakan banyak terjadi di Indonesia, Ben juga menambahkan dalam kasus Aceh. Rakyat Aceh tidak mempunyai niatan untuk memerdekakan diri dari Indonesia namun untuk menyuarakan kebijakan terhadap pemerintah pusat yang tidak memihak kepada daerah terutama rakyat Aceh pada tahun 1950-an. Dalam hal ini, saya sendiri menambahkan juga dengan kasus Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang didominasi oleh orang Minang. Mereka tidak juga mempunyai niatan yang sama untuk memerdekan diri dari NKRI seperti yang dilakukan oleh rakyat Aceh. 

Apa kontradiksi dari warisan nenek moyang bangsa-bangsa yang ada di Indonesia dengan semangat pemuda Indonesia untuk mendirikan sebuah Negara-Bangsa pada saat di bacakan sumpah pemuda? 

Jika mereka menghubungkan warisan keagungan nenek moyang asal bangsa mereka dilahirkan dengan semangat sumpah pemuda, maka dipastikan tidak ada titik temu penyatuan. Mengingat, warisan keagungan nenek moyang bangsa di Indonesia banyak mengisahkan penguasaan penguasaan dari satu bangsa terhadap bangsa lainnya yang berbeda wilayah. 

Tetapi, pada saat sumpah pemuda dibacakan, Nasionalisme telah resmi diciptakan menjadi sebuah proyek bersama. Rasa mencintai dan kebebasan disetiap masyarakat dan harus bersatunya untuk kemerdekaan. Mereka (pemuda) telah memulai babak baru dari Nasionalisme Indonesia. Rasa persatuan yang dibangun tidak dilandaskan lagi dari warisan keagungan nenek moyang mereka yang tidak ubahnya sama dengan kolonial. Yaitu sifat penjajah dari satu bangsa terhadap bangsa lainnya. Melainkan dari kesadaran Nasionalisme sebagai proyek bersama. 

Perjalanan kemerdekaan Indonesia benar-benar menguras energi dan pikiran. Banyak gagasan-gagasan yang dilontarkan untuk meramu Negara-Bangsa Indonesia. Tidak jarang perdebatan-perdebatan dari tokoh-tokoh yang menjadi pahlawan Indonesia saat ini berakhir di penjara. Gagasan-gagasan mereka tentang kemerdekaan Indonesia membuat Belanda gusar dan risih sehingga harus menjebloskan mereka ke penjara. 

Proyek bersama Nasionalismenya mereka bukanlah pengambilan hak bagian terhadap keuntungan pribadi. Namun, proyek bersama Nasionalismenya mereka adalah mengorbankan diri agar cita-cita bersama tercapai. Hal seperti Inilah yang menjadi dasar dari proyek bersama Nasionalisme Indonesia yang dikatakan oleh Ben. 

Lantas, bagaimana Kaum Milenial Indonesia dalam memahami dan menerapkan prinsip Nasionalisme menjadi proyek bersama seperti para pemuda Indonesia dulu? Dan mengapa harus Kaum Milenial. 

(Kaum) Milenial adalah sebutan untuk sebuah generasi yang dibatasi melalui tahun lahir. Jika merujuk pada teori yang dikemukan Karl Manhein pada tahun 1923. Generasi Milenial adalah generasi yang lahir pada rasio tahun 1980 sampai dengan 2000. Generasi Milenial adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan lebih dalam mengelola komunikasi dan teknologi digital. Karakteristik dari generasi Milenial ialah kreatif dan informatif. Lantas apa hubungannya Kaum Milenial dengan pemuda. Dari data yang dibukukan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak yang bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018. Menuliskan bahwa 50,36 persen angkatan produktif Indonesia di isi oleh Kaum Milenial. Sedangkan, dari total kaum Milenial Indonesia didominasi oleh kelompok pemuda. 

Artinya, Kaum Milenial Indonesia adalah kelompok yang menjadi salah satu variabel penentu dari maju atau mundurnya Indonesia. Bagaimana tidak, Kaum Milenial adalah orang-orang yang mempunyai tingkat kreatifitas yang tinggi dan mampu menggunakan berbagai macam sosial media secara bersamaan. Kreatifitas mereka ini bisa menjadi sumber daya kemajuan. Informasi bisa mereka akses dan diterima dengan mudah. Setiap detik, mereka bisa mengakses dan menerima informasi berita dengan bebas. 
Pada perkembangannya, Kaum Milenial adalah kaum terdidik. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan pendidikan dengan layak. Sehingga, penyesuaian mereka terhadap perkembangan teknologi cenderung adaptif. Namun, bagaimana dengan Kaum Milenial yang ada di Desa?

Kaum Milenial Desa adalah kelompok orang yang berada pada batasan umur pengelompokan teori Milenial yang berada di Desa. Kaum Milenial di Desa berbeda sekali dengan apa yang di cirikan oleh Manhein dalam mendefenisikan Kaum Milenial. 

Label Milenial sebagai kaum yang adaptif dan pengguna teknologi yang kreatif menjadi timpang ketika dihadapkan dengan kondisi Milenial yang ada di Desa. Alhasil, defenisi Milenial yang kita baca dan pahami selama ini terbentuk dari fenomena Milenial yang ada di perkotaan. 

Defenisi Milenial hanya sebatas objek yang di generalisasi melalui teori untuk kepentingan elektoral politik. Namun pada praktenya, ciri dari sandaran teori yang menjadi basis dari defenisi Kaum Milenial jelas berbeda. 

Dari sudut pandang elektoral politik, Kaum Milenial digeneralisasi untuk kepentingan politik. Mengingat umur angka pemilih Kaum Milenial berada pada angka 30-40 persen dari total seluruh pemilih. 
Lantas, setelah pemilihan berlangsung, bagaimana dengan fakta dari kondisi Kaum Milenial yang ada di Desa tersebut. 

Akhirnya pemerataan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Jangan sampai defenisi Milenial berhenti dan di ekspolitasi manfaatnya oleh politisi dan orang-orang yang ada diperkotaan. 

Pemerintah mempunyai tanggung jawab yang lebih. Jauh dari itu, kesadaran pemerintah bahwa angkatan kerja yang banyak di isi oleh Kaum Milenial dan didominasi oleh pemuda tidak hanya berada di kota. Gerakan-gerakan yang dibangun harus benar-benar berkeadilan dan merata. 

Disinilah Nasionalisme menjadi proyek bersama seperti yang dikatakan Ben dipertanyakan. Jika di awal-awal kemerdekaan, daerah dan Jakarta selalu terjadi konflik akibat ketidakadilan kebijakan. Maka, hari ini, bisa saja perkembangan Kaum Milenial di perkotaan dan pedesaan menjadi variabel baru dari permasalahannya.

Kewajiban pemerintah memfasilitasi Kaum Milenial terutama di Desa adalah hal yang urgen. Jangan sampai keterbelahan pemahaman antara Kaum Milenial yang ada di Desa dengan perkotaan menjadi penghambat laju perkembangan. Kesamaan cara berfikir dalam memahami perkembangan zaman harus menjadi bentuk dari harmonisasi. Disinilah letak tantangan pemerintah untuk terus melakukan pemerataan agar proyek bersama dari Nasionalisme Kaum Milenial Indonesia mempunyai frame yang sama. Yang nantinya, bahasa "ketertinggalan" tidak menjadi objek yang disematkan pada Kaum Milenial yang ada di Desa, tetapi menjadi buah bibir yang sama sama di ucapkan oleh seluruh Kaum Milenial Indonesia mengejar ketertinggalan dan mencapai kemajuan. 

Penulis : Ferdy Andika Rajo Perak (Sekjen AMPERA Sumbar)