Dina Dan Milka
loading...
-->
loading...

Pasang Iklan Anda

Dina Dan Milka

Rindo Ribad
Friday, September 25, 2020

 


Cerpen oleh : Rindo ribad


Kampus yang kurindukan itu yang kedua, pertama tetap kamu.

........Tok tok tok.......


Suara ketukan pintu itu membangunkan pagi ku, terlihat bayangan samar-samar seorang wanita dari balik tirai jendela. Kaca mata yang biasanya ku letakkan di dekat lampu tidur, ku ambil untuk pergi membuka pintu, ternyata perempuan itu adalah Linda yang baru pulang dari kampungnya terlihat dia membawa sebuah karton terikat dengan tali rapia mungkin saja itu untuk bekalnya satu minggu kedepan.

“Hai Dina” sapa Linda.

“Oh iya linda” jawab ku sambil tersenyum.

Kami bercerita banyak seharusnya sih menarik tetapi sesuatu sepertinya terjadi dengan linda, terlihat raut mukanya sedang sedih dan nada suaranya yang renda.

“Ada apa linda”

“Tak apa-apa aku hanya lelah Dina”

“Betulkah?”

”iya dina simalakahau” jawabnya.

Dia melanjutkan kegiatannya beres-beres barang dan aku sibuk dengan urusan ku sendiri. Panas terik cahaya matahari, minum es sepertinya enak. Pergilah ku arungi kedai es di persimpangan kilometer 7. Ternyata ada pria tanda tanya keluar dari sebuah toko cosmetik sambil memegang bendo, dia kaget melihat ku dan langsung menyapa.

“Biasa saja dong dina matanya, seperti melihat pria tampan saja” ujarnya tersenyum sambil memperbaiki rambut ke belakang.

“Apasih, aku hanya kaget untuk apa kamu membeli bendo, inikan untuk perempuan, untuk apa ?”

“Ya untuk ku pakailah, gerah rasanya rambut sepanjang ini”

“Okelah itu urusan mu, oh iya katanya mau nemenin aku mambuat tugas, jadi gak, laki-laki itu yang di pegang kata2nya loh”

“Siap tuan putri, kapan ?” sambil menyunggingkan senyuman.

“Apasih, rambut kuda si berantakula, sekarang mau ?” jawabku.

"Ayok"

Sore menuju senja itu aku lewati bersama milka di taman kampus yang penuh dengan bunga, kami berdiskusi dan bercerita tentang tugas dan kisah, di sela-sela pertemuan itu. Terlihat cerianya dia dengan rambut gondrongnya yang sesekali di hempaskannya ke belakang. Senang ku bukan main semua yang pengen aku ketahui tentangnya mulai aku pertanyakan.

“Milka, golongan darah mu apa ?”

“Golongan darah ku B”

“Pasti kamu suka membaca ya dan kamu suka warna biru serta kamu peka terhadap sesuatu”

“Wah-wah peramal dari mana ini, tersesat”. Jawabnya tersenyum.

Aku mulai mengetahui bahwa Milka orang yang ceria dan ramah serta menghargai orang lain, betapa senangnya hari ku sore ini, di hiasi dengan senyuman dan tatapan tajam dari pria penyelamat identitas ku.

Warna jingga telah bertebaran di langin biru mahasiswa telah berpulangan dari kampus yang sangat membosankan ini kecuali bagiku perlu di garis bawahi hanya sore ini. Kami tak sadar dengan keadaan ternyata hanya hitungan jari mahasiswa yang ada di kampus.

“Dina, balek yuk manusia sudah berpulangan ke kos masing-masing”

“Kata-katanya formal sekalai pria” ujar ku sambil tertawa.

Dia menatap ku dalam sekali seakan dia sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius, aku merasakan aroma kesenyapan ini sangat lain sungguh sangat lain.

“Ayok kita pulang Milka”.

Hayok Dina, aku takut melukaimu dengan kesenyapan ini” ujarnya dengan nada tanpa bersalah.

Aku tahu maksud Milka baik, tapi menurut ku Milka terlalu baik jujurnya sehingga menimbulkan spekulasi yang janggal di kepala ku.

“Aku balek sendirian saja”

Aku bukanlah tipe orang yang bisa mengungkapkan apa yang dirasa tapi aku adalah orang yang cukup merasa apa yang aku rasa. Begitulah cara ku mengungkapkan, pergi tanpa berpamitan.

“Kamu kenapa ?” ujarnya bingung sambil mengejar ku.

“Aku tahu kamu baik tapi kamu keterlaluan baik bila memikirkan tentang itu”

Aku pergi meninggalkannya tanpa kata tambahan. Biarlah aku bicarakan kepada kasur yang selalu siap menampung ku meski dia selalu aku pukul dan aku kusutkan.

Pukul 7 memang terlalu dini untuk ku meninggalkan indahnya malam dan pergi hanya untuk menyelami kisah-kisah palsu maksud ku tidur. Aku tidur dengan ketidak mungkinan yang aku terima darinya.

…..aku kesal dengan jarak, yang sering memisahkan kiiita…..

Ternyata sebuah panggilan dari Milka, sudahlah dia tidak seperti pikiran ku lagi.
Meski tidak seperti pikiran ku lagi tapi hati ku masih ingkar akal, alangkah beruntungnya mungkin mengangkat panggilan itu sanggahan rasa ya seperti itu !

“Linda, linda. Jika kamu tidak percaya kepada seseorang apa yang akan kamu lakukan ?”

“Aku bisanya menyelidikinya dulu dina”

Penguatan yang masih sama, sepertinya alam berpihak kepada Milka. Ternyata setelah ku pikir-pikir betul juga, mungkin maksud milka hanya untuk mengajak pulang tapi seperti itulah ajakannya sama seperti tampangnya yang blak-blakan.

“Kamu pernah suka ke seseorang tak Linda ?”

“Pernah dong, laki-laki itu beruntung telah aku sukai” jawabnya senyum lebar.

Jawaban seorang Visioner seperti itu ya, pasti ! Nah aku tidak seberani itu untuk mengungkapkan kepastian karna tidak ada kejelasan, walaupun pergi minum, nongkrong dan membuat tugas bareng itu wajar saja jika bagi orang yang baru kenal dan supaya lebih kenal.

Malam sepertinya telah dalam, tidak seperti planning ku sebelumnya, untuk tidur lebih awal ternyata hanya wacana saja tetapi kasur tak pernah berwacana untuk tidak menerima orang-orang yang terluka.

Ayam jago tetap jago walau tidak untuk beradu tetapi membangunkan juga sepertinya menjadi keahliannya. Seperti biasa sebelum melihat jam kacamata harus terpakai, jam 5 subuh aku terbangun dan langsung mengerjakan aktivitas yang seharusnya.

“Linda kabar-kabarnya hari ini ada demo? Iya kah?”

“Iya dina, penuh tuh story orang-orang”

Pagi menempeleng siang itu diributkan oleh ribuan mahasiswa yang mendemo rektornya, banyak mahasiswa yang ikut serta akan aksi itu, tapi aku hanyalah penonton yang memperamai. Sebetulnya aku juga setuju terhadap celotahan mahasiswa tersebut karna tidak sesuainya kewajiban yang kami berikan dengan hak yang kami terima tapi aku bukanlah orator yang bisa bersorak tapi orator yang bisa menrindu.

“Turunkan rektor, turunkan pejabat kampus yang tidak becus untuk mengurus. Apakah kampus hanya lahan untuk memperkaya dan memperkosa uang-uang petani ? Ukt kau tinggikan, pembangunan kau hayalkan katamu kampus ini akan menjadi kiblat tapi sepertinya itu hanyalah jualanmu untuk tetap eksis menarik uang-uang pinjaman orang tua kami” orator ulung yang besorak.

“Kami tidak mau lagi dengan situasi seperti ini, kami harus menerima hak-hak yang harusnya kami terima, turunkan rektor” orator menyintilkan aparat kampus.

Demo semakin heboh, polisian berdatangan dengan pasukan lengkap yang siap mengawal dan menebas jika aksi itu anarkis. Sepertinya aku tidak cocok lagi dengan situasi ini bukan hanya rasaku tapi juga posisiku yang bisa saja mobil-mobil pemadam kebakaran yang tidak aku ketahui apa gunanya menghantamku kesemak-semak di arah jam 3 ku.

“Rektor tak becus untuk mengurus, omong kosong apa yang kau kongkongkan wahai anjing memang benar ketika kita terkena air-air anjing kita harus menyamaknya arti kita harus mengganti rektor yang omong kosong ini”

Sepertinya aku mengenali suara itu, iya. Suara laki-laki penyelamatan dompetku. Betul sekali pandangan universalku terfokus kepadanya yang sedang berorasi.

Suasana semakin panas sepertinya anarkis akan terjadi dan betul saja setelah pikiranku sampai ke situ terlihat baku hantam yang dilakukan petugas negara dengan mahasiswa negara yang katanya akan mengharumkan nama bangsa saling pukul dan kejar-kejaran.

Aku meninggalkan aksi dengan ketakutan yang meraja lela bukan hanya tentang diriku juga tentanya yang sedang berada di amukan dua arah masa. Aku berlari dan terjatu seseorang datang dan menolongku.

“Kamu tak apa ?”

“Tak apa, aku hanya khawatir tentangnya, nya yang telah menyelamatkan dompetku, menemani penatku dan nya yang membawaku ngopi di malam hari. sayangnya itu hanyalah ucapan hati supaya lebih dramatis dan romantis” jawabku hanyalah

“iya tak apa-apa”

Aku tak tahu bagaimana kabar milka sekarang, aku cemas, gelisah dan diaduk resah. aku mencoba menghilangkan egoku dan mencari icon hijau di hpku serta melirik nama milka.

“Milka kamu tak kenapa-kenapakan ?”